Tag: quality control

  • Toyota Cs Tak Lagi Buang Komponen “Cacat”, Kualitas Mobil Jadi Turun?

    Toyota Cs Tak Lagi Buang Komponen “Cacat”, Kualitas Mobil Jadi Turun?

    Toyota

    Toyota bersama sejumlah pabrikan otomotif Jepang lainnya bakal menerapkan standar yang sama dalam menentukan sebuah komponen atau suku cadang layak dianggap cacat atau tidak.

    Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi antara Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) dan Japan Auto Parts Industries Association (JAPIA). Nantinya, standar baru tersebut akan mulai diterapkan secara bertahap dalam proses pengadaan komponen hingga akhir tahun 2026.

    Lho, memang selama ini belum ada standarnya?

    Sebenarnya ada. Namun, setiap pabrikan dan pemasok komponen memiliki standar masing-masing. Akibatnya, tidak sedikit komponen yang akhirnya dibuang hanya karena memiliki kekurangan minor, seperti bintik hitam kecil, goresan ringan, atau bekas cetakan yang sebenarnya tidak memengaruhi fungsi maupun tampilan saat kendaraan sudah dirakit.

    Dengan adanya standar yang lebih seragam, komponen-komponen seperti ini nantinya masih dapat digunakan selama tetap memenuhi standar keselamatan, fungsi, dan kualitas yang telah ditentukan.

    Menurut laporan Nikkei Asia, sekitar 60% komponen yang selama ini dikategorikan cacat berkaitan dengan bintik hitam kecil pada material. Selain itu, beberapa komponen plastik yang memiliki burr atau sisa material hasil proses pencetakan yang tidak berbahaya juga akan tetap dapat digunakan.

    Fictiv

    Dampaknya cukup besar. Untuk konektor plastik yang digunakan pada sistem kelistrikan kendaraan saja, penerapan standar baru ini diperkirakan dapat mengurangi pembuangan hingga sekitar 10.000 unit per bulan di Jepang.

    Di sisi lain, keputusan ini juga berkaitan dengan kondisi industri saat ini. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasokan beberapa bahan baku menjadi lebih menantang, termasuk naphtha yang digunakan dalam proses produksi plastik dan berbagai komponen interior kendaraan.

    Belum lagi biaya tenaga kerja di Jepang yang terus meningkat. Data dari Kementerian Tenaga Kerja Jepang menunjukkan rata-rata gaji bulanan pekerja tetap di sektor manufaktur kini mencapai 370.000 yen atau sekitar Rp40 jutaan per bulan, meningkat sekitar 20% dibandingkan 10 tahun lalu.

    Tak hanya itu, pabrikan dan pemasok asal Jepang juga menghadapi persaingan yang semakin ketat dari produsen otomotif China. Baik produsen mobil maupun pemasok komponen dari Negeri Tirai Bambu tersebut dikenal mampu menawarkan biaya produksi yang lebih rendah dengan proses pengembangan yang lebih cepat.

    Karena itu, meningkatkan efisiensi produksi tanpa mengorbankan kualitas menjadi salah satu fokus utama industri otomotif Jepang saat ini.

    JAMA

    Sebagai informasi, JAMA sendiri beranggotakan Toyota, Honda, Nissan, serta sejumlah produsen kendaraan Jepang lainnya. Sementara JAPIA menaungi sekitar 450 perusahaan pemasok komponen otomotif.

    Toyota bahkan disebut telah membentuk tim khusus untuk mulai mengevaluasi komponen menggunakan standar baru ini bersama para pemasok. Evaluasi tersebut juga melibatkan pabrikan lain seperti Honda dan Nissan dalam pertemuan rutin yang dilakukan secara berkala.

    Menariknya, langkah ini bukan berarti Toyota dan pabrikan Jepang akan menurunkan standar kualitas produknya. Justru sebaliknya, mereka berusaha mengurangi praktik over quality control yang selama ini membuat banyak komponen layak pakai berakhir menjadi limbah.

    Sumber: Nikkei Asia