Tag: byd atto 1

  • 2 Hari Pakai BYD Atto 1, EV Rp200 Jutaan Ini Bikin Kaget!

    2 Hari Pakai BYD Atto 1, EV Rp200 Jutaan Ini Bikin Kaget!

    Halo warga CeDe! Selamat datang di segmen review.

    Dan di segmen review pertama ini, kami, lebih tepatnya saya, akan membahas bagaimana rasanya hidup 2 hari pakai EV Rp200 jutaan. Mobil ini sudah banyak bertebaran di jalan, tau kan mobilnya apa? Yes, inilah dia BYD Atto 1 2025!

    Disclaimer dulu, mobil yang saya pakai ini merupakan tipe Dynamic VIN 2025. Jadi, ini adalah unit CBU, bukan CKD seperti VIN 2026.

    Oke, sekarang mari kita bahas.

    Hal pertama yang saya rasakan ketika mengendarai BYD Atto 1 ini adalah kemudahan membawanya. Seperti yang kalian tau, Atto 1 ini merupakan mobil compact hatchback yang panjangnya nggak sampai 4 meter, tepatnya di angka 3.925 mm saja. Lebarnya pun hanya 1,72 meter, masih lebih kecil dibanding Geely EX2, tapi sedikit di atas Wuling Binguo. Hal ini terasa ketika saya melewati atau melakukan manuver di tempat-tempat seperti parkiran apartemen atau jalan-jalan kecil khas Depok.

    Selain dimensi yang kecil tadi, radius putar yang super kecil di angka 4,95 meter juga turut membantu manuver. Ditambah lagi hadirnya kamera mundur dan spion yang cakupannya luas untuk mobil sebesar ini.

    Tapi, walaupun dimensi mobil ini mungil, ruang kabinnya masih terasa lapang untuk saya yang tingginya 159 cm. Bisa dilihat dari foto di bawah ini, posisi jok sopir sudah saya set dengan posisi nyetir ternyaman saya. Ruang kaki masih bisa saya dapatkan sekitar 10 jari, dan kaki saya pun masih bisa masuk ke bawah bangku. Memang, untuk ruang kepala tidak sebesar ruang kakinya, tapi untuk saya masih sangat aman.

    Lanjut, hal kedua yang saya rasakan dari mobil ini adalah rasa pedal gas dan remnya yang terasa natural untuk sebuah EV.

    Mulai dari pedal remnya dulu. Kebanyakan EV, apalagi di rentang harga Rp200 jutaan, punya rasa pedal rem yang terasa kurang natural. Tidak dengan BYD ini. Rasa pedal remnya masih terasa natural layaknya mobil ICE. Hanya saja, travel pedalnya memang pendek, tapi itu tidak jadi masalah bagi saya. Toh mobil EV juga terbantu dengan regenerative braking yang lagi-lagi terasa menyenangkan di mobil ini.

    Walaupun semua lini BYD termasuk Atto 1 ini hanya memiliki 2 mode regenerative braking (Standard dan High), rasanya tidak lebay atau terasa terlalu powerful, bahkan di mode High sekalipun. Dan saya suka itu, karena saya masih lebih suka pengereman yang halus atau natural ala ICE.

    Lalu bagaimana dengan pedal gasnya?

    Jujur saja, untuk yang ini saya kurang suka. Kenapa? Karena pedal gas mobil ini harus diinjak cukup dalam, atau bahkan sampai setengah gas dulu, baru mobilnya mau bergerak. Mirip sekali dengan rasa pedal gas BYD M6 EV. Mungkin BYD punya pertimbangan lain dalam men-setting rasa pedal gas pada Atto 1 ini, karena pada dasarnya mobil ini dirancang sebagai city car, belum lagi tenaga dan torsinya yang tergolong rendah untuk sebuah EV. Tapi bagi kalian para beginner, pedal gas ini sangat cocok untuk kalian. Tidak heran mengapa sekarang sudah ada kursus mobil yang menggunakan Atto 1.

    Sekarang, masuk ke pengalaman berkendaranya, dan yang ini, saya suka.

    Untuk EV Rp200 jutaan, mobil ini tergolong enak. Bahkan rasa mobil ini 11-12 dengan suatu brand Jepang yang terkenal di Indonesia juga.

    Mulai dari steering feel. Biasanya, mobil Tiongkok selalu kalah soal steering feel. Tidak dengan Atto 1 ini. Setir mobil ini masih cukup bisa berkomunikasi dengan jalanan, tidak terasa hambar, dan beratnya pun pas. Kombinasi yang susah ditemukan di mobil-mobil Tiongkok.

    Tapi seenak-enaknya steering feel mobil ini, tetap ada flaw-nya.

    Jika di kebanyakan mobil yang setirnya bisa centering ke tengah itu terasa enak dan natural, di mobil ini tidak. Setelah mendekati posisi tengah, mobil ini malah seperti membanting setirnya sendiri. Dan ini cukup bikin kaget bagi yang pertama kali pakai mobil ini. Jadi kalian harus hati-hati.

    Dan satu lagi yang saya sadari, ketika dipakai dalam kecepatan tinggi terutama di tol, steering feel mobil ini justru terasa makin ringan. Alhasil, input setir kecil sedikit saja sudah cukup membuat arah mobil berubah. Padahal, suspensinya sendiri sebenarnya antep dan cukup meyakinkan. Jadi saat cruising di kecepatan tinggi, setir mobil ini tetap harus dipegang dengan cukup hati-hati.

    Lanjut ke suspensi, chef’s kiss.

    Selain rasa setirnya yang mirip dengan suatu brand Jepang terkenal itu, rasa suspensinya pun mirip-mirip. Hanya saja, settingan di Atto 1 ini terasa sedikit lebih mahal dan lebih nyaman, mungkin sekitar 5% lebih baik.

    Selain nyaman, handling mobil ini juga cukup cekatan. Padahal, suspensi belakang mobil ini masih menggunakan torsion beam, bukan multi-link seperti EX2. Good job BYD. Salah satu mobil dengan suspensi terenak di rentang harga Rp200 jutaan.

    Oh ya, walaupun tipe Dynamic ini tidak memiliki telescopic steering, untuk saya dengan tinggi 159 cm, posisi nyetirnya sudah sangat pas untuk kaki dan tangan saya. Well done.

    Lalu bagaimana dengan kekedapan kabinnya?

    Selayaknya mobil Tiongkok, mobil ini kedap. Bahkan untuk mobil seharga Rp200 jutaan, ini termasuk kategori sangat kedap. Masih jadi misteri kenapa mobil-mobil Tiongkok bisa all-out soal kekedapan.

    Tapi… layaknya EV kebanyakan, terutama EV Tiongkok, road noise-nya cukup masuk. Walau masih dalam taraf wajar, saya rasa jika ban bawaannya diganti ke merek yang lebih oke, road noise-nya akan berkurang lumayan banyak.

    Oke-oke… sekarang rasanya review ini too good to be true.

    Sekarang kita bahas kekurangan dari mobil ini, and I have several lists.

    Yang pertama, membawa mobil ini di kondisi hujan adalah hal yang melelahkan. Karena kaca depan mobil ini sangat gampang berembun, sehingga setiap 15 sampai 20 menit sekali saya harus menyalakan front defogger-nya.

    Kedua, blind spot di mobil ini sangat parah. Terutama di bagian pilar C-nya. Entah karena desain sampingnya yang lancip atau apa, yang jelas kalian harus hati-hati kalau bawa mobil ini, terutama saat merging. It’s extremely painful.

    Dan karena pilar C yang sangat tebal itu, duduk di baris kedua pun terasa claustrophobic, ditambah kaca pintu baris kedua yang ditarik ke atas. Lumayan bikin tersiksa sih.

    Ketiga, absennya lampu kabin di baris kedua. Sudah seharusnya mobil ini punya lampu kabin di baris kedua, apalagi warna interior mobil ini dominan hitam sampai ke plafon. Kalau HP kalian jatuh, ya harus pakai flashlight HP teman kalian buat nyari.

    Dan terakhir, seperti yang saya mention di atas, pedal gas mobil ini harus diinjak cukup dalam. Bagi saya yang sudah terbiasa nyetir dan punya mobil dengan pedal gas sensitif, saya butuh pembiasaan yang cukup lama, bahkan di drive mode Standard sekalipun.

    So, verdict-nya gimana?

    Untuk mobil harga Rp200 jutaan, mobil ini layak untuk dibeli. Terutama buat kalian yang lagi mencari first car atau first EV. Dan kalau kalian tidak masalah dengan kekurangan yang saya mention tadi, langsung beli aja udah.

    Oh iya, kalau kalian tanya ke saya, upgrade ke VIN 2026 ini menarik atau nggak?

    Kalau menurut saya pribadi, hmm… nggak. Memang ada beberapa improvement seperti electronic column shifter, center console baru, electric folding mirror, electric driver seat, sampai kamera 360 untuk tipe Premium. Bahkan sekarang juga hadir varian STD dengan harga mulai Rp199 jutaan.

    Tapi di sisi lain, ada dua hal yang menurut saya cukup krusial malah dikurangi di VIN 2026 ini. Pertama, rear defogger yang sekarang dihilangkan di semua tipe. Kedua, jumlah airbag di tipe Premium yang berkurang dari sebelumnya 6 airbags menjadi 4 airbags. Dan buat saya pribadi, dua fitur ini justru lebih penting dibanding beberapa penambahan fiturnya.

    Jadi kalau kalian sudah punya ATTO 1 VIN 2025, menurut saya nggak perlu buru-buru upgrade ke VIN 2026

    Terakhir, shout out to B Channel yang telah meminjamkan mobil ini kepada kami. Mampir ke YouTube beliau ya!

    Thank you guys for reading. See you guys on the next review.